Sabtu, 15 Agustus 2009

Hati Nurani Kang Je

Hari ini, aku janjian dengan Kang Je untuk menikmati alam bersama.
Semalam, Ia sudah bilang akan membangunkan aku pagi ini melalui kicau burung dan sedikit suara orang-orang yang sudah harus berkegiatan sejak subuh. Jadi, meski di hari-hari biasa aku tak menggubris hal-hal kecil itu, sebab lebih enak tetap mendekam dalam hangatnya selimut, kali ini kuyakinkan diri untuk bangkit dan memenuhi janji.
Dan, senyum ku pun menghias mulut sedikit menutup mata yang masih separuh enggan menatap semua.

“Pagi, Kang… Sudah lama menunggu?” sapaku setelah tahu Ia sudah berdiri di depan rumah.
Senyum itu seperti pagi yang merekah cerah. Tidak ada kesan malas atau enggan meneruskan apa yang akan dilakukan hari ini. Segar sekali.
Aku jadi sedikit malu dengan kondisiku yang berbeda denganNya itu.
“Pagi, anakKu… Masih mengantuk?” tanyaNya, mengetahui isi hatiku.
Kepalaku mengangguk.
Kang Je menarik tanganku lalu digenggam erat. Persis seperti anak kecil yang akan dituntun oleh Bapaknya.. Memberi kehangatan tersendiri.
“Kita nikmati pagi ini dengan segala ceritanya yaaa…”
Kali ini aku mengangguk. Kubiarkan aku dituntun seperti ini.
Rasanya senang sekali… Seperti kembali ke masa kecil…

Matahari yang harus bertugas hari ini nampaknya masih malu menunjukkan diri.
Di atas awan masih tersisa kelam malam. Angin nan berhembus pun sesekali masih terasa menyentuh kulit ari. Dingin.
Sesaat mata kulihat setetes air jernih menyentuh daun hijau di hadapanku membuat warna hijaunya semakin indah dan menyegarkan. Senyumku terkulas begitu memandangnya.
Pagi ini terasa segar.

“Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi (Kej. 1:11),” gumam Kang Je. Kepalaku mengangguk-angguk.

Ketika langkah kaki kami baru beberapa langkah, mataku melihat seorang tukang sampah sedang mengorek dan mengangkat sampah yang ada di sana.
Wajahnya keras, tergambar betapa berupayanya ia untuk meneruskan hidup, baik buatnya sendiri maupun keluarga. Tapi, dalam wajah keras itu, aku tak menemukan guratan marah, kecewa atau mengeluh. Bapak itu benar-benar menjalani pekerjaannya dengan sukacita.
“Itulah caranya menunjukkan kepada BapaKu atas hidup yang telah diberi. Bukan urusan jenis pekerjaannya, tetapi bagaimana ia menerima pekerjaan itu dan menjalaninya dengan penuh sukacita. Di sana berkat BapaKu akan selalu menyertai…”

Aku masih memerhatikan Bapak tukang sampah itu.
Sungguh.
Syukur atas hidup begitu memancar diantara kondisi sampah yang mungkin kotor dan menjijikan, tetapi dengan kesadaran penuh harus ia angkat serta bersihkan sehingga orang lain terhindar dari penyakit, juga lingkungan terlihat bersih.

Tanganku masih erat tergenggam erat Kang Je.
Langkah-langkah kaki kami pun semakin banyak menikmati pagi.
Sesekali Ia menerangkan tentang apa saja yang kami lewati. Kesegaran pagi jadi lebih terasa.
Dan, tanpa kusadari kekaguman atas segala ciptaanNya ini begitu menyeruak, berbuah-buah seolah tak ada habisnya. Sekian lama aku tak merasakan hal ini.
Entah mengapa, kekaguman ini berubah menjadi sebentuk energi yang menyemangatiku untuk meneruskan hari-hari. Langkah kaki kurasa ringan, tidak lagi berat.
Semangat ini seperti terbaca mentari, karena berbarengan dengan itu, kulit ariku merasakan ada sentuhan hangat khas darinya. Kuangkat kepalaku ke atas, kusaksikan matahari sudah mulai tersembul biar belum 100% terpancar sinar kuatnya.

“Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setiaNya (1 Taw. 16:34).” Kang Je mendadak langsung memuji. Sebentar tanganNya terlepas dari genggamanku lalu terbentang sembari mulutNya mengucap doa.
Kutundukkan kepala sebagai tanda ikut bersyukur kepadaNya.

Begitu selesai, kembali Kang Je mengambil tanganku lalu digenggam erat.
Dituntunnya aku untuk terus menikmati pagi ini.
Kali ini Ia hendak mengajakku ke arah seberang. Bagian sana memang belum kami telusuri sejak tadi. Maka kami pun hendak menyeberang.
Belum sempat kaki melangkah lebih jauh, mendadak sebuah sepeda motor dengan kencang melaju tepat di hadapan kami.. Tanpa klakson, tanpa ada tanda-tanda lain sehingga membuatku kaget sekali..
Werrrr…..
“Sialan!! Pagi-pagi sudah cari masalah nih…,” umpatku spontan. Mukaku berubah garang.

“Jaga mulut dan apa yang keluar dari dirimu, anakKu. Bukankah semangat pagi tadi sudah memberimu sesuatu yang luar biasa?” Kang Je bergeleng-geleng melihat tindakanku barusan.
“Habis, orang itu seenaknya sih, Kang… Emang jalanan ini punya dia, apa?”
Senyum tipis terkias dari mulut Kang Je. Rasanya ia mengerti dengan kekesalanku.
“Hendaknya kamu hidup dengan baik bersama sesamamu. Juga karena kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan – maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah – oleh kebangkitan Yesus Kristus* (1 Pet. 3:21).”

Tertegun aku kesekian kali.
Mulut tak lagi bisa sembarang mengucap.
Ada yang kembali menyeruak.

Kang Je melepas tanganku lagi. Ditepuk-tepuknya punggungku. “Ketika segala sesuatu: pekerjaan, tingkah laku, perkataan, perbuatan sehari-hari dilakukan dengan hari nurani, niscaya kamu akan mendapatkan energi indah dan luar biasa yang seperti tadi telah kau rasakan. Taka kan ada keluhan, umpatan atau kemarahan memenuhi diri. Aku telah mencontonkannya padamu. Dan, setelahnya tiada lain yang bisa kau lakukan selain ucap syukur kepada BapaKu yang sudah memberimu segala keagungan hidup ini.”

Mataku mengatup.
Hatiku berusaha menyatukan apa yang telah kualami dengan apa yang kudapat barusan dari Kang Je.
Segala hal ini menguatkan jiwa dan ragaku untuk selalu berusaha ingat atas karunia tak terkata ini. Bahkan burung yang tadi membangunkanku pun, saat ini seperti menyanyikan senandng akan bentuk hidup tak terkira yang telah Ia berikan.

“Teruskan hidup dan harimu anakKu… Di dalam hati nurani yang tulus ada banyak berkatKu bagi hidupmu selanjutnya…”

Ya, Kang Je…
Terima kasih untuk hidupku yang indah ini.

* diambil dari kutipan bacaan kedua, Pekan I Prapaskah, 1 Maret 2009
(setelah pulang dari raker, garut 28 Feb – 1 Mrt)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar