Jumat, 28 Agustus 2009

Jangan Menangis Mama

Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari kamar

operasi .

Dia bertanya dengan penuh harapan:

Bagaimana anakku?

Apakah dia dapat disembuhkan?

Kapan saya boleh menemuinya?

Dokter bedah menjawab, "Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi

sayangnya anak ibu tidak tertolong"

Bu Sally bertanya dengan hati remuk, "Mengapa anakku yang tidak berdosa

bisa terkena kanker?

Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi?

Di mana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanMu? "

Dokter bedah bertanya, "Apa Ibu ingin bersama dengan anak ibu selama

beberapa waktu?

Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum jenazahnya dibawa ke

universitas. "

Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan

selamat jalan kepada anak lelakinya. Dengan penuh kasih dia mengusap

rambut anaknya yang hitam itu.

"Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?" perawat

itu bertanya.

Bu Sally mengangguk. Perawat memotong sedikit rambut dan menaruhnya di

dalam kantung plastik untuk disimpan.

Ibu Sally berkata, Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk

diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia

dapat menolong orang lain yang memerlukan..

"Awalnya saya tidak membolehkan tapi Jimmy menjawab, 'Ma, saya kan sudah

tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubuhku dapat

membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.. "

Bu Sally terus bercerita, "Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu

memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa

melakukannya. "

Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama

enam bulan di sana untuk merawat Jimmy...

Dia membawa kantung yang berisi barang-barang anaknya. Perjalanan pulang

sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang

terasa kosong.

Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantung plastik yang berisi

segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya..

Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik prib adi Jimmy,

anaknya, di tempat Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu.

Kemudian dibaringkan dirinya di tempat tidur. Dengan membenamkan

wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur. Di sekitar tengah

malam, bu Sally terjaga. Di samping bantalnya terdapat sehelai surat

yang terlipat.

Surat itu berbunyi:

"Mama tercinta,

Saya tahu mama akan kehilangan saya; tetapi saya akan selalu mengingatmu

ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa

mengatakan 'Aku sayang mama'.

Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu

ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum saat itu tiba,

jika mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak

apa-apa ma .

Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku. Tetapi jika mama

memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang

dilakukan oleh kami, anak lelaki..

Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh

anak perempuan. Jangan sedih karena memikirkan aku ma. Tempat aku berada

sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai

di sana dan mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah. Tapi perlu

waktu lama untuk melihat segalanya di sana .

Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang

melihatnya terbang. Dan apa mama tahu apa yang kulihat? Yesus tidak

terlihat seperti gambar-gambar yang dilukis manusia. Tapi, ketika aku

melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku

menemui Allah Bapa! Tebak ma apa yang terj adi ? Aku boleh duduk di

pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah aku ini orang yang

sangat penting.

Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada mama

untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku

sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan- Nya. Tapi mama tahu,

Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis

surat ini kepada mama.

Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu ma.

Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan mama ketika mama bertanya 'Di

mana Allah pada saat aku membutuhkan- Nya?' Allah mengatakan Dia berada

bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus disalib.

Dia ada di sana ma, dan dia selalu berada bersama semua anak.

Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis

selain mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan sehelai

kertas kosong. Luar biasa kan ma? Sekarang saya harus mengembalikan

pensil Bapa yang aku pinjam.

Bapa memerlukan pensil ini untuk menuliskan nama-nama dalam Buku

Kehidupan.. Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam

perjamuan-Nya. Aku yakin makanannya akan lezat sekali..

Oh, aku hampir lupa memberitahukanmu ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi.

Penyakit kanker itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan

merasakan sakit itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan.

Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk

menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman

istimewa! Bagaimana ma?

1 komentar: