Jumat, 07 Agustus 2009

TOUCHING STORY FROM ITALY

Dibalik cerita Pedonor sumsum tulang belakang dan pelaku pemerkosaan.

Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa.
17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota, tak tahu aku
bener ngak nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang
kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi
perempuan
berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung
tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya,sang bayi kini
menderita leukemia kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum
tulang belakang segera.
Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan
hidupnya.
Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini,
bersedia
menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth. Berita pencarian
orang ini
membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya.
Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal
jelas, ia akan menghadapi kesulitan besar.

Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada
kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia
tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak
terampuni.
Kisah ini akan berakhir bagaimanakah ? Seorang anak perempuan yang
menderita leukimia ternyata
menyimpan suatu kisah yang memalukan
di suatu perkampungan Itali.

Martha,35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang.
Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara
kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam.
Hal ini menarik perhatian setiaporang disekitar mereka untuk bertanya, Martha
hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam,

dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan
seperti ini.
 Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus
mengalami `demam tinggi.
Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia.
"Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang
belakang yang paling cocok untuknya." Dokter menjelaskan lebih
lanjut. "Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang
paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok.
Harap seluruh anggota
keluarga
kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang
belakang."
Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga
menjalani pemeriksaan.
Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu
mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok
sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur,
yaitu Martha
dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan
darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi
panik,
 dan berkata tanpa suara "Tuhan..kenapa menjadi begini ?" Ia
menatap
suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson
mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan pada
mereka, "saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk
menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi
yang baru
dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. " Hal ini hanya didengarkan oleh
pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir mereka
hanya berkata,
"Biarkan kami memikirkannya kembali."

Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu
ruang kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit
bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan

berkataserius pada dokter. "Kami ada suatu hal yang perlu
memberitahumu.
Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini
merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun."
Dr. Adely menganggukkan kepalanya.

Lalu mereka menceritakan: "Itu adalah 10 tahun lalu, dimana
Martha ketika pulang kerja telah diperkosa seorang remaja berkulit hitam.
Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah
menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu
aku bagaikan gila keluar rumah mencari
orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan
orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing
menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh."
Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan
kembali . "Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil.
Kami merasa sangat
ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya
merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku
masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah
bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan. Maret
1993,Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami
begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti
asuhan.
Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih
lagi bagaimanapun
Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah
nyawa. Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada
akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama
Monika."

Mata Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami
kenapabagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan
hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil
mengangguk-anggukkan
kepala
Dr. Adely berkata "Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak
sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika." Beberapa
lama kemudian,ia memandang Martha dan berkata "Kelihatannya, kalian
harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya cocok
untuk
Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali
muncul dalam kehidupan kalian ?" Martha berkata : "Demi anak, aku
bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul

menyelamatkannya.Aku tak akan memperkarakannya. " Dr. Adely merasa terkejut akan
kedalaman cinta sang ibu.

Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum
akhirnya
memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan
nama samaran. November 2002, di koran Wayeli termuat berita pencarian
ini,seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon
sang
pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah
nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia ! Begitu berita ini
keluar,
tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon
Dr.Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon,
orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini Mereka ingin
bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya. Tetapi
Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak
ingin lagi
identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.

Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini
berakhir.Orang hitam itu akan munculkah?
Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat
kita sekarang menilainya Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk
menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk
masa
lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini ?

Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese,
memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia
seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki
lembaran terkelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia
adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili
yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring
panggilan.

Dikarenakan orang tuanya
telah meninggal sejak ia masih muda, ia
yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini.
Iayang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja
dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi
sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikann
ya.
Tak peduli segiat
apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya.
17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang
kerja lebih awal untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. 
Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. 
Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu
berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia
bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih.
 Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan
di parkiran ia bertemu Martha.
Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita
yang tak berdosa ini.

Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam
itu juga Ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA
menuju Napulese, meninggalkan kota ini.
Di Napulese, ia bertemu
keberuntungannya.
Ajilimendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang
Amerika.
Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan
penikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada
akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka.

Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas,tak hanya memajukan
bisnis
toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Dimata
pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos
yang
baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya
tetap
membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya.
Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi
wanita
yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan
tentram.
Tapi ia
menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun. Pagi
hari
itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus

mempertimbangkan
kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak
pernah
membayangkan bahwa wanita malangitu mengandung anaknya, bahkan
menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang
awalnya bukanlah miliknya.
Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon
Dr.Adely.Tapi
setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, iatelah
menutupnya
kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui
semuanya,
setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-
anaknya
tak akan lagi
mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang
bahagia dan
istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat
disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya
bertahun-tahun.Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan
kasus
Martha.Sang istri, Lina berkata : : "Aku sangat
mengagumi
Martha.

Bila
aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memeliharaanak
hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami
Martha ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat
menerima
anak yang demikian." Ajili termenung mendengarkan pendapat
istrinya,
dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan: "Kalau begitu, bagaimana
kaumemandang pelaku pemerkosaan itu ?" "Sedikitpun aku tak
akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini
juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-
benar begitu
rendah, begitu egois, begitu pengecut ! Ia benar-benar
seorang pengecut !" demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api
kemarahan.
Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada
istrinya.
Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak
bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan
kesabaran dan
menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata :"Kau ayah yang
jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku".

Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat
sang anak dan berkata: "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang
salah, maafkan papa ya."
Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut
dibuatnya,
dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya :
"Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau
memperbaiki kesalahannya. " Malam itu, Ajili tak dapat
terlelap,
merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang
kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat
mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia
bertanya pada dirinya sendiri : "Aku ini sebenarnya orang baik, atau
orang jahat?"
Mendengar
bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan
seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi
rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidak beresan pada
dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah
Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi
hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah : "Selamat pagi,
manager!" Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati
dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya
hampir menjadi gila saja rasanya.

Setelah
berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat
lagi
terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat
tenaga
menjaga suaranya supaya tetap tenang : "Aku ingin mengetahui
keadaan
anak malang itu." Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak
sangat parah. Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata
:"Entah
apa ia dapat menunggu
hari kemunculan ayah kandungnya." Kalimat terakhir ini menyentuh
hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah
mengalir keluar,
bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri !
Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan
kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan
kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan
keberaniannya sendiri untuk
memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia
berkata : "Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah
Monika. Aku harus
menyelamatkannya. "
 Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia
berteriak marah :"Kau PEMBOHONG !" Malam itu juga ia
membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia
memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-
istri
tersebut dengan
segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang
penuh
pengalaman hidup, mereka menasehatinya : "Memang benar, kita
patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi
pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu
berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati
nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan
seorang
suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia
memperbaikidirinya Ataukah seornag suami yang selamanya menyimpan kebusukan
inididalamnya ?" Mendengar ini Lina terpekur beberapa
lama.
 Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili,
menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya
berkata : "Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan
menemanimu!"
3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely. 8
Februari, pasangan tersebut tiba di
RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA
Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika
Martha
mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani
memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh
tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun
saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu.
Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi
pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan
jelas
identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia

mengungkapkan
keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah
kandung
Monika telah ditemukan.

Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka
terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon
untuk
dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini,
sekaligus
penghormatan mereka
padanya. Mereka berpendapat : "Barangkali ia
pernah
melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !"

10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat
bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk
menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun
menyetujui
hal ini. 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS,
Martha bertemu langsung dengan Ajili.
Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha,
langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat.
Martha dan
suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat
tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara
menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir.
Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata :
"Maaf...mohon maafkan aku ! Kalimat ini telah terpendam
dalam
hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk
mengatakannya langsung kepadamu."
Martha menjawab :"Terima kasih Kau dapat muncul. 
Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang
belakangmu dapat menolong putriku".
19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang
Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang
dokter berkata dengan antusias : "Ini suatu keajaiban !"
22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya
terkabulkan.
Monika menerima sumsum
tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya
Monika
telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh
keluar RS dengan sehat walafiat. Martha dan suami memaafkan Ajili
sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka
untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr.
Adely
membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan
penyesalan dan rasa malunya berkata :"Aku tak ingin kembali mengganggu
kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan
tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan
bagaimanapun,harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu
kalian".

"Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari
dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk
menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-
benar bahagia di
saparoh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia
berikan padaku !" ( Italia post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar