Senin, 29 Maret 2010

Menabur kebaikan kepada sesama

Suatu waktu, adalah seorang gadis remaja. Ia seorang yang sangat 'sempurna'. Ia pandai, cantik, ramah, kaya, dan mudah bergaul. Ia juga tidak sombong dan mau bergaul dengan semua golongan. Lebih dari itu, ia juga seorang yang taat pada Tuhan. Ia seorang aktivis gereja yang sangat produktif & luar biasa.
Suatu ketika, ia mempunyai seorang teman laki-laki di sekolahnya.. Sangat berkebalikan dengannya, ia seorang yang pas-pasan, tidak pandai, dan tidak disukai banyak orang. Ia adalah seorang yang kelihatannya tidak memiliki masa depan yang jelas.
Namun demikian, gadis ini tidak menjauhinya. Ia justru mendekatinya, menjadi teman yang baik baginya, menjelaskan pelajaran yang tidak dimengertinya, dan bahkan mentraktirnya di kantin sekolah ketika ia tidak punya cukup uang untuk jajan. Lebih dari itu juga, ia terus mendorong temannya itu untuk datang ke gereja & mengenal Tuhan.
Namun si teman laki-laki ini selalu menolak untuk datang ke gereja. Gadis itu tidak putus harapan, ia senantiasa mendorongnya dengan setia, walau usahanya kerap tidak membuahkan hasil yang memuaskan.Keadaan berlangsung cukup lama, sampai suatu ketika terjadi sesuatu yang tragis.
Dalam suatu insiden, gadis itu tertabrak mobil dan akhirnya meninggal dunia.
Tentu saja ini adalah suatu pukulan yang luar biasa bagi si teman laki-laki ini. Di sela-sela dukacitanya, ia berkeinginan untuk 'membayar hutang'nya selama ini pada gadis itu. Ia berpikir bahwa dengan datang ke gereja, ia dapat melunaskan hutangnya karena selama ini sang gadis selalu memohon dia untuk datang ke gereja.
Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke gereja, hanya satu kali saja, setelah itu hutangnya lunas.Ketika si teman laki-laki itu datang ke gereja, ia mendengarkan Firman Tuhan, yang menyatakan padanya tentang seorang sahabat sejati yang senantiasa menaruh kasih setiap waktu. Ia teringat pada kasih yang diberikan gadis itu kepadanya & Tuhan menyentuh hatinya melalui kenangannya itu.
Pada hari itu juga, ia memutuskan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.Ia pun terus bertumbuh dan bertumbuh dalam kasih dan dalam Kristus. Walau laki-laki itu tidak mengenyam pendidikan musik secara formal, namun nada-nada bergelora dalam hatinya. Oleh sebab itu, ia menciptakan banyak lagu, di antaranya : 'Sejauh timur dari barat', 'mujizat itu nyata', 'hati sebagai hamba', 'sungguh indah Kau Tuhan', dll. Lagu-lagu itu pula yang saat ini begitu mewarnai kehidupan rohani orang-orang Kristen di Indonesia.
Laki-laki dengan masa depan yang tidak jelas itu adalah JONATHAN PRAWIRA, salah satu komposer musik rohani besar di Indonesia , yang memberi kontribusi besar pada kehidupan rohani jutaan orang percaya.
Teman, bagaimana dengan kita? Ketika kita melihat orang-orang yang tidak berpengharapan, orang-orang yang begitu menyebalkan bagi kita, orang-orang yang mungkin kita pikir tidak mungkin berkarya bagi Tuhan karena saking bejatnya mereka; apa yang kita akan perbuat dengan mereka?
Membiarkannya?
Bukankah semua orang juga akan berbuat hal yang sama?
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, mari kita merenungkan hal ini.
Bagaimana jika seandainya gadis remaja itu tidak pernah mengajak teman laki-lakinya itu ke gereja?
Bagaimana jika gadis sempurna itu berlaku seperti orang lain, yang menjauhinya dan tidak menaruh perhatian padanya?
Bagaimana jika gadis itu berpikir,"Ah, apa untungnya aku dekat-dekat dengan dia"?
Jawabannya jelas. Kita tidak akan mengenal Jonathan Prawira dan puluhan lagu rohani karyanya.
Demikian pula kita. Jangan pernah berhenti bersaksi, dan menaburkan kasih Kristus kepada sesamamu. Karena kita semua tidak akan pernah tahu, siapa yang akan kita tuai. Kita tidak akan pernah tahu, sebesar apa hasil orang yang kita tabur dengan kasih Kristus. Kita tidak akan pernah tahu, bahwa akan ada Jonathan Prawira - Jonathan Prawira yang lain yang akan kita tuai. Lihatlah sekelilingmu, itulah ladang-ladang yang Tuhan sediakan untuk kita menabur benih kasih. Oleh sebab itu, di manapun, kapanpun, ubahlah cara pandangmu, dan TETAPLAH MENABUR!
-Berdasarkan kesaksian pribadi Jonathan Prawira-

Live With God