Selasa, 28 Februari 2012

Kopi vs Cangkirnya

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik. Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya." Hidup kita seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki. Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru. Kualitas hidup kita ditentukan oleh "Apa yang ada di dalam" bukan "Apa yang kelihatan dari luar". Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan ~o) ;)

Kamis, 16 Februari 2012

Belajarlah dari Akar

Seorang tukang kebun mengadakan penelitian sederhana.

Ia menanam 2 tanaman yg sama pd lahan yg sama. Yg membedakan hanya bagaimana cara merawat tanaman tsb.

Tanaman yg pertama disirami secara rutin tiap pagi & sore sedangkan tanaman yg ke-2 disirami 2 hari sekali.

Ketika tumbuh besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tsb.

Perbedaan cukup mencolok; butuh waktu ± 2 menit untuk mencabut akar tanaman pertama.

Tanaman ke-2, butuh waktu lebih lama yaitu 4 menit !

Mengapa ?

Krn tanaman pertama dimanjakan
sehingga akarnya tdk berusaha mencari ke tanah yg lebih dalam.

Sedangkan tanaman ke-2 mendapat suplai air yg lebih sedikit sehingga akarnya mencari ke sumber air yg lebih dalam ke tanah.

Kita sama dgn ilustrasi tsb.

Jika kita dimanjakan & semua permintaan "mudah" dikabulkan atau tidak pernah ada penderitaan, ini akan membuat kita jadi orang yg manja. Kita akan menjadi orang yg cengeng.

Akibatnya akar potensi diri tdk akan kuat & ketika permasalahan terjadi, dgn mudahnya kita tumbang!

Bagaimana? Apakah memilih untuk menjadi orang yg manja dgn akar yg rapuh? Atau menjadi orang yg dewasa?

"HIDUP TANPA BISA MENGATASI MASALAH, KITA HANYA AKAN MENJADI PRIBADI YG MANJA & MEMILIKI AKAR POTENSI DIRI YG RAPUH..."