Sabtu, 08 Desember 2012

MENARI DI TENGAH BADAI

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya.
Aku menyiapkan berkasnya, memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya.
Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan utk memeriksa lukanya, nampaknya cukup baik dan kering. Tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yg tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan utk melakukannya sendiri.
Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru.
Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo utk makan siang bersama istrinya, seperti yg dilakukannya sehari-hari.
Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir.
Aku sangat terkejut dan berkata, "Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?"
Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata,
"Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?"
Aku harus terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding.
Cinta kasih seperti itulah yg kita mau dalam hidup?
Cinta sesungguhnya tdk bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yg terjadi saat ini, yg sudah terjadi, dan yg akan terjadi.
Bagiku pengalaman ini menyampaikan pesan penting:
Orang yg paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yg terbaik, mereka hanya berbuat yg terbaik dgn apa yang mereka miliki.
Hidup bukanlah sekadar berjuang menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah badai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar