Kamis, 14 Juni 2018

Memaafkan

Saat itu kami makan di sebuah rumah makan cukup ternama, seorang gadis remaja melayani kami. Saat ikan pesanan kami akan diletakkannya di atas meja, piring dalam genggamannya miring sehingga menumpahkan saus ikan tersebut ke atas tas saya.

Saya merasa sangat marah. Akan tetapi sebelum mengatakan sesuatu, putri saya berdiri kemudian menghampiri pelayan tersebut seraya tersenyum dan menepuk pundaknya kemudian berkata "Tidak apa2...". Sungguh saya terkejut dibuatnya apalagi saat gadis yang merasa bersalah tersebut ketakutan seraya meminta maaf, "Maaf ibu, akan saya ambilkan lap untuk membersihkannya". Tetapi apa yang dikatakan putri saya? Dia mengatakan dengan sangat lembut seperti pelayan itu adalah sahabatnya... "Sudahlah, tidak apa2 nanti akan saya bersihkan saat pulang". Hal inilah yang membuat emosi saya berpindah dari kepada pelayan jadi kepada anak saya sendiri. Hampir saja acara makan malam itu menjadi makan malam tidak menyenangkan seandainya putri saya tidak bercerita.

Dia mengatakan waktu kuliah di Eropa beberapa tahun lalu, dia sempat bekerja di sebuah restoran untuk mengisi liburan karena kami tidak memperkenankannya pulang selama menjalani pendidikan. Putri saya mengatakan, pada hari pertama bekerja dirinya melakukan kesalahan fatal saat ditugaskan mencuci gelas2 didapur. Saat itu tanpa disengaja dia memecahkan tumpukan gelas mahal. Mulutnya tergetar saat bercerita bahwa saat itu dirinya serasa berada di neraka. Akan tetapi bagaimana reaksi bosnya? Bosnya menghampiri lalu memeluk sambil berkata "Kamu tidak apa2 kan?". Putriku hanya mengangguk, kemudian bosnya menyuruhnya melakukan pekerjaan lain yaitu melayani tamu sementara bosnya meminta pegawai petugas kebersihan untuk membersihkan pecahan kaca. Sebuah tamparan yang lebih menyakitkan dibanding dimarahi kemudian disuruh menyelesaikan keselahannya.

Akan tetapi saat itulah terjadi kesalahan lainnya. Karena masih gemetar akibat peristiwa sebelumnya, saat menuangkan minuman kedalam gelas tamu, minuman tersebut terpercik pada gaun tamu. "Matilah aku" kata putriku, "pasti bos akan langsung memecatku". Akan tetapi tanpa di-sangka2 tamu tersebut tidak mempermasalahkan dan berkata... "Tidak apa2 nanti bisa saya bersihkan", sambil berdiri menepuk pundak putriku lalu menuju toilet. 

Putriku menatap mataku sambil menutup ceritanya, "Ma, apabila orang bisa memafkan saya saat melakukan kesalahan. Apakah mama tidak bisa memaafkan orang lain jika melakukan kesalahan hampir sama...?" 

Sungguh saya terenyuh mendengar cerita pengalamannya. Sebuah kesalahan telah membuat sikapnya menjadi lebih bijak untuk bisa memaafkan orang lain. 

Menyadari kita juga bisa melakukan kesalahan, akan membuat kita lebih bijak untuk bisa memaafkan orang lain.

Cerita ini tidak hanya untuk diri saya saja, maka saya share untuk manfaat kita bersama. *Kasih itu lemah lembut  itu memaafkan, Kasih itu tidak pendendam!!* 💞👌

Tidak ada komentar:

Posting Komentar